Cerita seks janda kelatan gemini and cancer dating


Kuakui walau dalam umur awal 30-an ini Mbak Limah tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kakak iparku yang berusia 25 tahun. Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Limah. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kulitnya kuning langsat dengan potongan badannya yang masih menarik perhatian lelaki. Memang Mbak Limah tidak memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan. Karena itu aku tidak dapat melihat seluruh kemaluannya. Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya. Kasur Mbak Limah bergoyang mengeluarkan bunyi berdecit-decit.

cerita seks janda kelatan-31cerita seks janda kelatan-12cerita seks janda kelatan-42

Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan.

Erangan Mbak Limah semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu.

Siang tadi kakak iparku nelepon, memintaku datang ke rumahnya setelah kuliah. Aku berlari menuju arah suaranya dan melihat Mbak Limah terduduk di tepi jemuran. “Den Mad, tolong Mbak Limah bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil menyeringai mungkin menahan sakit. Aku hanya mengangguk sambil mengambil kain yang berserakan lalu sebelah tanganku coba membantu Mbak Limah berdiri. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya memegang kain yang berada di tangan Mbak Limah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak Limah. Lalu dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Bibir Mbak Limah terasa menarik-narik batang penisku.

Aku menuntun Mbak Limah masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi. Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya.

Kasihan Mbak Limah, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak tersenyum. Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada kelebihannya. Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Mbak Limah semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi. Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Lidahku kini bermain di pusar Mbak Limah, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya.